Thursday, August 31, 2006

The Dream Shall Never Die

"... And may it be said of Us, both in dark passages and in bright days, in the words of Tennyson ... and that have special meaning for me now:

I am part of all that I have met
Tho' much is taken , much abides
That which we are, we are
One equal temper of heroic hearts
Strong in Will
To Strive, To Seek, To Find, and Not to Yield

For .. this came to an end... For .. the work goes on, the cause endures , the hope still lives, and the Dream Shall Never Die ... "

Sen.Edward M.Kennedy (D-Massachusets).Democratic Party Convention, New York, August 12th, 1980

Wednesday, August 02, 2006

Irish Poem

May the road rise to meet you,
May the wind be always at your back.
May the sun shine warm upon your face,
The rains fall soft upon your fields.
And until we meet again,
May God hold you in the palm of his hand.

May God be with you and bless you:
May you see your children's children.
May you be poor in misfortune,
Rich in blessings.
May you know nothing but happiness
From this day forward.

May the road rise up to meet you
May the wind be always at your back
May the warm rays of sun fall upon your home
And may the hand of a friend always be near.

May green be the grass you walk on,
May blue be the skies above you,
May pure be the joys that surround you,
May true be the hearts that love you.

Friday, July 28, 2006

Farewell

Dear all,

As some of you will have known, today is my last day with GEFI. As you
know my time with you has not been too long, however I have come to
admire the kindness and patience you have extended to a newcomer to the
Industry. I wish to express my appreciation for the cooperation and the
teamwork which you have kindly given to me during my eight months of
being part of the GE organization. I would also like to thank the
Management for the rare opportunity given to a non Finance person like me to
join you on this important moment in GE's presence in Indonesia. I was
delighted to join GE and will continue to wish GE well.

On a personal note I would like again to express my gratitude for
taking care of me and my family during the recent unfortunate event.

Farewell and until we meet again.

From a grateful friend ,

Cheers,
Iwan.

Monday, July 24, 2006

Personal Note

We Suffer Because We Are Giving More than We Receive. Paulo Coelho

Wednesday, July 19, 2006

Announcement

Dear All,

Following is sent on behalf of EUGENE TAN and BOB MORAN

We are pleased to announce the appointment of Iwan Salim to the position of Supply Manager, Indonesia with effect from 19th July 2006. Most of you already know Iwan from his previous stints with Shell, both globally and in Indonesia, most recently with Shell Global Solutions. He has had extensive experience in Lubricants marketing and development and Business consultancy (with Downstream Management Consultants). He left Shell to join GE Finance in Indonesia last year, but has decided to return to Shell and resume his career here with this appointment.

The position is a new position that is required as our fuels business expands with Retail's growth and Commercial Fuels about to start-up. We have further aspirations in other fuels businesses (e.g. Aviation and Marine) as well as in exploring possible synergies with third parties. All these will require more focused and coordinated management of Supply and Distribution in country. A separate notice will be sent in due course on the organizational structure of this team.

Please join me in welcoming Iwan back to Shell and in wishing him all the success in this new and important role.



Bob Moran, Country Chairman/LSDR
Eugene Tan, Supply Projects Manager East

Saturday, July 15, 2006

Personal Note

Dear All,
I would like to take this opportunity to express my appreciation for your support and your continued prayers during the recent unfortunate event. Such expression of kindness and solidarity are most appreciated. As you know I made a rather quick recovery and have left the hospital. A number of factors have been contributed to this, but for me, the most important one have been the steady and strong stream of support: your visits, your calls, your emails and sms, your cards, your books and your flowers. These I thank you- and more. > I look forward to meeting with you again soon, albeit with an arm sling and a new hairstyle- so be warned:)> Cheers from a grateful friend

Personal Note

... And Then, Adding Insult To Injury ...

Thursday, April 27, 2006

IFS Series#6: Manager, Leader, Mentor

oleh Iwan Fuad Salim (email to : iwanfuadsalim@yahoo.com)


Seorang kolega saya mengundang saya lunch baru baru ini. Saya memang ingin bertemu dengan dia karena tertarik untuk mendengar pengalamannya di tempat kerjanya yang baru. Kolega saya ini agak unik karena ia sangat loyal.Setelah sepuluh tahun bekerja, perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaannya yang kedua.

Setelah basa basi sebentar saya bertanya kepadanya bagaimana kesan kesannya setelah pindah ke perusahaan yang baru ini. Jawaban yang diberikannya cukup mengejutkan karena ia mengeluh bahwa ia tidak menemukan figur pemimpin di perusahaan yang baru ini.Menurut kolega saya ini para 'petinggi' perusahaannya tidak di respect oleh staff ; tidak ada petinggi yang memiliki leadership dan karisma yang memukau karyawan karyawan; yang paling parah adalah petinggi petinggi tersebut dianggap tidak berkompeten dalam bidangnya masing masing. Sangat mengherankan sekali padahal perusahaan tempatnya bekerja adalah salah satu perusahaan yang sangat dihormati di dunia internasional.

Ketika saya mendengar kolega saya mengeluarkan keluh kesahnya ingatan saya langsung teringat pada percakapan saya dengan salah seorang mentor saya tentang perbedaan seorang Manager, Mentor dan Leader.Memang benar apa yang dikatakan mentor saya bahwa tidak banyak petinggi yang sekaligus merupakan manager.mentor dan leader.

Pertanyaan pertama tentu apa bedanya antara manajer, mentor dan leader ? Umumnya seorang manajer yang baik adalah seorang manajer yang doing the things right, sementara seorang leader adalah orang yang melakukan the right things. Mentor umumnya dikatakan sebagai seorang yang banyak memberikan bimbingan berupa coaching dan guidance bagi orang yang lebih junior, biasanya bawahannya.

Saya tidak tahu pengalaman anda, tapi pengalaman saya bekerja adalah bahwa susah untuk memperoleh ketiga kualitas diatas di dalam satu orang. Biasanya ada atasan yang good manager dan good leader tapi ia pelit membagi ilmu atau tidak bisa dikatakan sebagai good mentor. Lain kali ada atasan yang good leader dan good mentor tapi tidak becus dalam melaksanakan tugasnya sebagai manajer. Dan yang terakhir adalah atasan kita adalah good mentor dan good manajer tapi ia tidak menimbulkan keinginan loyalitas dari anak buahnya atau bukan good leader.


Seorang Mentor yang baik dapat anda langsung kenal.Jika tanpa diminta ia membagi ilmu dan insight yang dimilikinya maka kemungkinan besar anda sudah menemui mentor anda. Biasanya para mentor ini merupakan individu individu yang sangat sukses dalam bidangnya dan tidak merasa terancam kedudukannnya jika ia membagi ilmu dan pengalamannya kepada karyawan karyawan lainnya apalagi karyawan lang jauh lebih junior.

Selama saya bekerja saya memiliki dua orang mentor.Jika saya ingin minta nasihat dari mereka maka yang perlu saya lakukan hanyalah mengirim email kepada mereka dan mereka pasti akan menjawab pertanyaan saya. Saya tahu mereka sibuk tapi entah bagaimana caranya mereka pasti meluangkan waktu jika saya yang bertanya.Kadang kadang mereka menyempatkan diri menelefon langsung padahal mereka hampir dipastikan selalu berada di Eropa.

Di dalam tulisan berikutnya saya akan bahas mengenai Manager dan Leader.

All Rights Reserved © Iwan Fuad Salim,2006. Penulis adalah seorang professional di sebuah perusahaan keuangan multinasional dan pernah bekerja dan tinggal di beberapa negara di Asia

Monday, March 13, 2006

IFS Series# 5 : More on Career Planning

oleh: Iwan F.Salim (email:iwanfuadsalim@yahoo.com)


Saya diberi kesempatan berbicara di almamater saya yaitu Universitas Indonesia. Kesempatan yang diberikan adalah sebagai pembicara tamu pada mata kuliah Kapita Selekta di Fakultas Teknik. Topik yang saya bawakan adalah Career Planning , berhubungan dengan salah satu artikel saya yang pernah dimuat di sebuah harian nasional. Berikut adalah beberapa subject yang menjadi fokus pertanyaan para mahasiswa.

1.Kapan saat yang paling tepat untuk menentukan Career Objectives?

Lebih awal , Lebih baik. Memang benar bahwa di masa masa awal bekerja banyak orang yang masih belum pasti rencananya dua atau tiga tahun mendatang, apalagi rencana dengan horizon waktu yang lebih panjang seperti tujuan karir. Karena itu hendaknya masa masa dua atau tiga tahun pertama tersebut digunakan sebaik mungkin untuk mengenal diri dengan baik.Temukan apa yang menjadi strengths dan weaknesses anda dan jadikan hal tersebut menjadi input menentukan tujuan karir anda.

2.Apakah hambatan-hambatan yang akan dihadapi dalam pencapaian tujuan karir seseorang ?

Tentu banyak dan di situlah pentingnya disiplin untuk selalu membandingkan rencana karir dan kenyataan yang terjadi. Lakukan analisa apakah anda sudah berada dalam jalur yang benar dalam perjalanan mencapai tujuan karir anda. Jika analisa anda menunjukkan perkembangan karir anda sesuai dengan rencana maka anda tidak usah melakukan apa apa.Sebaliknya jika ternyata karir anda tidak berkembang maka anda harus mempertimbangkan tindakan korektif apa yang harus anda ambil.

3.Apa yang harus dilakukan jika tujuan karir harus diubah ?

Beberapa faktor atau peristiwa yang dialami mungkin mengakibatkan adanya perubahan atas tujuan karir yang hendak dicapai. Perubahan tujuan karir dapat berupa perubahan usia pencapaian jenjang karir tertentu tapi dapat pula berupa jenjang karir yang diinginkan berubah. Rencana awal mungkin menjadi Finance Manager di usia 30 tahun tetapi perusahaan menginginkan anda lebih lama dalam posisi asisten manajer.Atau perusahaan meminta anda untuk pindah jalur dari bidang sales ke bidang Personel.
Lagi lagi anda sebaiknya memikir masak-masak bagaimana menyikapi perkembangan yang sedang anda alami.Apakah anda bersikap menerima bahwa jenjang karir anda tidak persis seperti yang anda inginkan. Jika anda tidak ingin menerima kondisi yang anda maka anda harus siap dengan Plan B dan implementasikan hal itu.
Dalam tulisan berikutnya saya akan lanjutkan dengan beberapa hal lain yang menjadi perhatian rekan-rekan mahasiswa.

Iwan Salim, seorang professional pada perusahaan consumer finance multinasional.Pernah bekerja di sebuah perusahaan minyak multinasional dan bekerja dan tinggal di beberapa negara di Eropa.

Hak Cipta ada pada Penulis.2006

Saturday, March 11, 2006

IFS Series # 4: Career Planning: Should You Accept the Job Offer ?

Oleh : Iwan F.Salim
(email to : iwanfuadsalim@yahoo.com)


Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang kolega lama. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya . Kami bertemu karena saya ingin minta pendapatnya mengenai sebuah job offer yang baru-baru ini saya terima.

Kolega saya ini-sebut saja namanya Andy- kemudian membagi pengalamannya dalam malang melintang selama lebih dari 10 tahun sebagai professional bekerja baik di dalam maupun di luar negeri , baik sebagai professional di tingkatan lokal, regional maupun Global.

Pertama, Jangan mengambil keputusan karena alasan-alasan emosional. Apa yang dikatakan sebagai alasan-alasan emosional ? Singkatnya anda harus yakin bahwa anda pindah karena perusahaan yang menawarkan job baru tersebut lebih baik dibandingkan dengan perusahaan anda yang lama, dalam segala bidang. Ini merupakan alasan-alasan yang rasional. Tetapi jika anda menerima job tersebut karena sudah lama anda tidak menyukai atasan anda di perusahaan sekarang, atau anda merasa diperlakukan tidak adil oleh perusahaan sekarang, sebaiknya anda mempertimbangkan keputusan anda dengan masak-masak.

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Demikian juga tidak selamanya atasan yang anda tidak sukai tadi akan menjadi atasan anda. Akan datang saatnya dimana dia akan menjabat pekerjaan lain dan tiba giliran Anda yang menjadi atasan.

Jadi kalau istilah bahasa Inggrisnya, ‘Sleep on It’. Jangan ambil keputusan dalam keadaan emosional.

Hal yang Kedua yang menurutnya harus menjadi pertimbangan adalah bahwa kita harus yakin bahwa tujuan karir kita akan lebih cepat tercapai dengan pindah ke perusahaan yang baru.Anda tentu pertama tama harus lebih dahulu tentukan career objectives anda.Apakah anda ingin retire sebagai CEO atau sebagai Finance Director pada 5 tahun mendatang? Anda harus dapat memperkirakan dimana anda akan lebih cepat menyampai tujuan tersebut.Apakah dengan tetap berada dalam pekerjaan anda saat ini atau dengan pindah pekerjaan ? Jika anda yakin yang Pertama adalah jawabannya maka anda tidak usah pindah pekerjaan. Jika sebaliknya maka anda harus pindah pekerjaan.

Dan yang Ketiga - dan mungkin yang paling penting- adalah bahwa selalu tinggalkan perusahaan yang lama dengan baik baik. Dunia adalah tempat yang sangat kecil, siapa tahu kita tidak suka di tempat kerja yang baru ...akan sangat berguna jika kita masih dapat kembali ke perusahaan yang lama, walaupun mungkin tidak di pekerjaan yang sama dengan pekerjaan yang kita tinggalkan. Tentu yang lebih baik adalah jika perusahaan anda yang lama menghubungi anda dan meminta anda untuk kembali pada posisi yang lebih senior. Memang kadang-kadang ada baiknya meninggalkan perusahaan anda untuk beberapa lama dan kemudian kembali lagi dengan melakukan ‘big jump’ dan menduduki posisi yang lebih senior , yang tidak mungkin ada tempati jika anda tidak memutuskan untuk pindah perusahaan.

Semoga Bermanfaat !

All Rights Reserved. Iwan Fuad Salim, 2006.

Sunday, February 19, 2006

http://www.clocklink.com/clocks/0002P-Black.swf?TimeZone=GMT0700&Place=Jakarta" width="200" height="200" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash">

Monday, November 28, 2005

Farewell to Shell, Till We Meet Again

To everything there is a season, and a time to every purpose under the heaven.
A time to be born, and a time to die;
A time to plant, and a time to pluck up that which is planted...
A time to get , and a time to lose;
A time to keep and a time to cast away...
A time of war, and a time of peace...

Dear All,

In my 10+ years with Shell, I have been fortunate to have visited 20+ cities in 15 countries (and lived in 2 of them) , worked in 2 continents, held 6 roles, worked for 3 global businesses, and clocked up 500,000 Air Miles in one particular year....

Some of you may be aware that those times are coming to an end. With mixed feelings, I will be leaving Shell effective from this Friday, November 25th 2005. Regretfully I was not able to inform you sooner. I will be doing something completely different with another multinational company who will be expanding its banking operations. I will be part of the business development team and will continue to be based in Jakarta.

People ask me how I feel about leaving. Parting is such sweet sorrow. The sweet is the new road I will be taking with its exciting and new challenges; new people to see, new places to go. The sorrow is leaving behind what makes Shell a great company to work for : You. You have all treated me as if I am already who you think I ought to be. By doing this you guided me to what I am capable of doing.

To my colleagues in Jakarta, few of us on our own will have the greatness to move Shell . But as each of us work harder and smarter, it sends forth a tiny ripple of hope, each bigger than before and in that will be written the history of the Shell Companies in Indonesia. As you travel the road ahead, my fondest hope is that your collective wisdom will be the lamp guiding your steps and opportunity's arm will be steadying your way.

As for me, I have miles to go before I can sleep. Miles to go...

I plan to finish my masters' degree and eventually earn my PhD. Along the way I hope to persuade my almamater to give me a teaching position. When I am old and gray and teach Strategy to my students, I will be thinking of you all.

Finally, I would like to express my deep appreciation to Ad de Visscher and Bob Moran who have provided me with advise, guidance, kindness, superior coaching and support not only throughout my last role , but even more so in the last couple of weeks. Mike Pitt, my new boss, it would have been a real pleasure to work for you.

Thank you all, Thank you for your Friendship throughout my time in Shell. Working with you has been an absolute pleasure and a treasured privilege.

God bless you, Farewell, and till we meet again.

From a grateful Friend.
Cheers, Iwan.

Thursday, November 24, 2005

Announcement

ANNOUNCEMENT FROM BOB MORAN AND AD DE VISSCHER

Dear colleagues,

Iwan Salim is leaving Shell to pursue a new career with General Electric Consumer Finance in Jakarta as Vice President for Business Development. Iwan decided on this move in close communication with Shell. He made his final decision today and tomorrow will be his last day with Shell.

Over his 10 years with us, Iwan has been very valuable to Shell in Indonesia and globally in his roles in Lubricants Marketing, Oil Products Business Consultancy (OMC) and Shell Global Solutions, for which we are very grateful and appreciative. He has been wonderful to work with, always professional, positive and supportive. Iwan in fact was a talented individual who Shell had hoped to develop for key leadership roles in Indonesia and the region. Nevertheless, we respect his decision to make this career change and accept a challenging leadership role in a reputable and profitable company with high aspirations as well for Indonesia.

With respect to his current responsibilities, those projects related to our key client Pertamina will be handled by Wally Saleh. The AKR account will be taken up by Johan Hazejager whereas TPPI will be dealt with by Harry van Dijk and Mike Pitt.

Kind regards,
Bob Moran and Ad de Visscher

Friday, October 21, 2005

Quote of the Week: Ralph Emerson

It was a high counsel that I heard once given to a young person, 'Always do what you are afraid to do'. Ralph Waldo Emerson in Plays.

Friday, September 16, 2005

Quote of the Week

Life is an adventure, perilous indeed, but men are not made for safe heavens.
Unanimous

Quote of the Week:Aeschylus

In Agony, Learn Wisdom.
Aeschylus in Promotheus

Wednesday, September 14, 2005

Career Planning

oleh Iwan F. Salim

(email:iwanfuadsalim@yahoo.com)

Seorang kolega saya baru-baru ini hengkang dari perusahaannya yang lama dan mendapat posisi sebagai salah seorang vice president perusahaan keuangan multinasional. Saya sempat heran karena perusahaannya yang lama bergerak di bidang energi jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaannya yang baru. Tidak lama kemudian saya sempat bincang bincang dengan dirinya dan saya tanyakan apa yang menyebabkan perusahaannya yang baru mau menerima dirinya yang nota bene tidak memiliki pengalaman relevan. Jawabannya adalah bahwa career planning yang proaktif dilakukannya menyebabkan ia memiliki pengalaman dan skills yang relevan dengan pekerjaannya yang baru.

Career planning proaktif memang mungkin belum banyak dilakukan.Anda ingin 'laris' seperti kolega saya tadi? Berikut beberapa petunjuk praktis yang dapat Anda pertimbangkan.

1. Tentukan tujuan akhir karir anda: Posisi apa yang anda ingin capai pada saat anda pensiun ? Presiden Direktur ? Direktur Keuangan? Jika anda sudah tahu aspirasi anda, lakukan survey untuk melihat pekerjaan atau jenis pekerjaan apa yang pernah dilalui oleh para pemegang jabatan tersebut. Misalnya posisi presiden direktur di perusaaan marketing hampir selalu dipegang oleh eksekutif yang pernah memegang berbagai posisi di sales dan marketing dan biasanya ditunjang dengan pengalaman beberapa tahun di bagian supply and distribution. Profile presiden direktur di setiap perusahaan tentu berbeda, jadi anda harus melakukan survey di atas.

2. Identifikasi skills dan experience apa yang diperlukan untuk sampai pada tujuan akhir anda. Tentukan pekerjaan pekerjaaan apa yang dapat memberikan skills dan experience yang telah diidentifikasi tadi. Setiap kali anda sudah harus merasa mencari pekerjaan baru, pastikan bahwa pekerjaan anda sesuai dengan rencana jangka panjang anda. Yakini diri anda bahwa pekerjaan tersebut akan memberikan skills, responsibility dan breadth of experience yang anda butuhkan untuk sampai pada posisi yang anda inginkan.

3. Tentukan pada usia berapa anda ingin mencapai posisi tersebut. Anda juga harus masukkan faktor senioritas anda (pangkat) dalam perusahaan. Jika anda relatif masih muda dan target anda mencapai posisi yang anda inginkan dalam 10 tahun maka tentu job job yang harus anda lakukan lebih banyak dibanding jika anda memberi target 5 tahun. Jika anda sudah mencapai posisi yang relatif senior maka pasti jalan ke puncak lebih landai dibanding jika anda masih seorang fresh graduate peserta program management trainee.

Seorang kolega saya memiliki tools sederhana. Ia membuat sebuah diagram sederhana yang menggambarkan usia berapa ia harus naik pangkat dan jabatan apa yang harus diembannya pada usia usia tertentu. Ini memudahkannya untuk mereview progress perkembangan karirnya apakah sudah sesuai dengan rencana atau tidak dan mengambil tindakan korektif yang diperlukan.

4. Lihat sekeliling anda dan identifikasikan siapa pesaing anda. Tentu pesaing internal lebih mudah diidentikasikan ketimbang pesaing eksternal. Pastikan bahwa anda memiliki profile , relationship dan visibility yang lebih baik dibanding pesaing pesaing internal anda.

5. Cari pengalaman bekerja di luar negeri. Selain menambah pengalaman,bekerja di luar negeri juga akan memperluas network anda. Kalau tadinya mungkin anda hanya kenal dengan orang orang di kantor Jakarta saja , dengan bekerja di luar negeri akan menambah pergaulan anda dan memperluas sumber informasi untuk membantu karir anda.

6. Tingkatkan visibilitas anda : Jangan ragu mengambil posisi pemimpin dalam inisiatif inisiatif strategis perusahaan anda. Misalnya ada gugus tugas penghematan biaya maka jangan ragu menawarkan diri untuk menjadi ketua. Kegiatan kegiatan seperti ini sangat diperhatikan oleh top manajemen dan biasanya memungkinkan anda presentasi atau bekerja langsung diawasi oleh top manajemen.Artinya jika top manajemen menyukai hasil kerja anda terbuka luas kemungkinan anda dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi.

7. Cari Mentor atau 'godfather': Di banyak perusahaan, peran mentor khususnya dalam hal memberikan rekomendasi yang baik masih sangat penting. Di beberapa perusahaan juga dikenal istilah 'godfather' yang dengan aktif mencarikan posisi bagi para 'anak anak angkatnya'. Jika anda tahu siapa para ‘godfather’ ini maka anda harus pintar-pintar membangun aliansi politis dengan mereka sehingga kelak dikemudian hari mereka dapat menolong anda.


Semoga bermanfaat
All rights reserved. Copyrights (c) Iwan Salim 2005.

Tuesday, August 30, 2005

Quote of the Week: President Clinton


One of life’s greatest curse is the answered prayer

Wednesday, August 17, 2005

To Zaky

We wish to the new child
A heart that can be beguiled
By a flower

That the wind lifts
As it passes.

If the storms break for him
May the trees shake for him
Their blossoms down.

In the night that he is troubled
May a friend wake for him
So that his time may be doubled,

And at the end of all loving and love,
May the Man above
Give him a crown.

Irish Poem.

Monday, August 15, 2005

Quote of the Week: William Shakespeare

"When he shall die take him and cut him out into stars and he shall make the face of heaven so fine that all the world will be in love with night and pay no worship to the garish sun." Romeo and Juliet.